Tak Sekedar Berkurban
Oleh Atik Setyawati, S.Si.
Betapa hati tak teriris menyaksikan langsung desahnya…. ya desahnya meregang nyawa. Belati tajam itu telah memutuskan urat nadi lehernya. Dan… brukk…. ambruk seketika. Darah mengucur deras terpancar dari nadi yang terputus, napas terengah-engah, kemudian menghembuskan nafas terakhirnya. Tak berapa lama kemudian belati pun merobek kulit, menyayat dan terbukalah daging merah segar. Pekik suara takbir dan tahmid menyertai prosesi berkurban. Terlihat pula wajah tegang siswa-siswi Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah Metro saksikan proses pemotongan hewan kurban.

Adalah ia Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah Metro, sekolah tahfidz quran di Kota Metro Lampung yang berbasiskan aqidah Islam dalam kurikulum pembelajarannya. Senantiasa mengajarkan sebuah metode pembelajaran yaitu tallaqiyan fikriyan muatsaron.
Pembelajaran yang dirancang sebagaimana pembelajaran yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Penyampaian ilmu pengetahuan secara langsung dengan menyentuh pemikiran sehingga siswa menjadi pandai untuk kemudian kepandaiannya tersebut berpengaruh terhadap perilaku kesehariannya. Metode ini dilaksanakan dalam setiap pembelajaran, tanpa terkecuali pada momen perayaan Hari Raya Idul Adha 1440 H.
Siswa belajar berkurban dengan patungan membayar iuran untuk membeli hewan kurban, dan terbelilah seekor kambing untuk belajar berkurban. Siswa menyaksikan secara langsung prosesi penyembelihan hewan kurbannya.
Guru Tsaqofah Islam menjelaskan secara gamblang keteladanan berkurban Nabi Ibrahim as. beserta Nabi Ismail as., putranya, pun jua Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim as. Betapa kecintaan kepada Allah swt robbul ‘alamin di atas segalanya, di atas kecintaan kepada makhlukNya meskipun itu darah daging sendiri. Pun mengisyaratkan bahwa dibalik setiap pengorbanan dalam menjalani ketaatan akan berbuah sesuatu yang indah dan manis. Putra kesayangan urung disembelih berganti seekor kibas dari Sang Kholik. Pantaslah bila Nabi Ibrahim as. mendapat julukan kholilulloh (kekasih Alloh swt)
Guru sains menjelaskan bahwa setiap yang hidup merasakan kematian pun demikian hewan kurban. Sudah menjadi qodratnya bila belati mengenai urat nadi di leher dan urat tersebut putus maka matilah hewan kurban. Guru menjelaskan bagian-bagian tubuh hewan kurban baik kambing maupun sapi. Penyusun organ dalam, sistem pernapasan, sistem pencernaan, sistem gerak, sistem pelepasan. Siswa aktif bertanya dan langsung memegang organ tubuh hewan yang dipelajari. Siswa mengenali bentuk dan fungsi masing-masing organ.
Siswa pun belajar berhitung berapa banyak sate yang harus dimasak dalam kerja kelompok. Praktik ekskul memanggang sate kambing dengan pantauan guru pendamping. Tim kerja harus solid antara yang memegang tangkai sate, mengipas, membuat perapian hingga dalam kelompok penyajian makanan.
Siswa belajar menyampaikan pesan untuk mengantarkan daging kurban ke tetangga kompleks sekolahan. Dengan pendampingan guru, siswa bertutur kata dengan bahasa yang baik dan ahsan ketika memberikan daging kurban kepada tetangga kompleks sekolahan. Pembelajaran inilah yang menerapkan pembelajaran tallaqiyan fikriyan muatsaron yang terangkum dalam satu momen perayaan Idul Adha.
Selain siswa aktif sebagai pembelajar, tidak ketinggalan orang tua pun bersinergi dengan sekolah mewujudkan kurban syar’i yang dikoordinir oleh Pengurus Forum Orang Tua Murid dan Guru (FOMG). Untuk kurban Hari Raya Idul Adha 1440H terbentuk dua kelompok shohibul kurban. Penyembelihan hewan kurban dan pendistribusian dilakukan secara terkoordinasi dengan baik antara shohibul kurban dengan orang tua siswa lainnya. Shohibul kurban selain dari orang tua siswa juga berasal dari kalangan keluarga, kenalan, maupun aghniya yang mempercayakan kurbannya di KU.
Bertemakan, “Kurban KU kendaraanku menuju syurga”, tahun 1440H memotong 2 ekor sapi dengan berat bersih daging mencapai 309kg. Daging dikemas dalam wadah yang ramah lingkungan. Penggunaan ‘besek’ sebagai wadah daging kurban menambah keberkahan ibadah berkurban. Semoga sampai pada akhirnya bahwa kurban KU, kendaraanku menuju syurga. Wallohu’alam
